Heru Pras, Juru Sembelih Halal RPH Surabaya, Ujung Pisaunya Penentu Kehalalan
Heru Pras, Juru Sembelih Halal RPH Surabaya, Ujung Pisaunya Penentu Kehalalan

Keterangan Gambar : Potret Heru Pras, Juru Sembelih Halal RPH Surabaya. RPH Surabaya/ Anton Kusnanto


Surabaya (rphsurabaya.co.id) - Di balik proses pemotongan hewan, ada satu peran sangat krusial yang menentukan kehalalan daging yang dikonsumsi masyarakat. Peran itu berada di tangan seorang Juru Sembelih Halal (Juleha). “Juleha ini pilar utama ketika penyembelihan. Karena dia yang menentukan halal tidaknya binatang sembelihan,” tegas Heru Pras.

Baginya, bertugas sebagai Juleha di Rumah Potong Hewan (RPH) Surabaya bukan sekadar pekerjaan teknis memotong hewan. Di balik satu kali sayatan, ada tanggung jawab syariat, kesejahteraan hewan, hingga jaminan kehalalan produk yang sampai ke masyarakat.

Perjalanan Heru menjadi seorang Juleha dimulai jauh sebelum dirinya bergabung dengan RPH Surabaya. Tahun 2007, ia mulai terjun membantu penyembelihan hewan kurban di masjid tempat tinggalnya. Saat itu, juru sembelih senior di masjid mulai kelelahan menangani banyaknya hewan kurban. Kondisi tersebut membuatnya merasa harus ikut turun tangan. “Waktu itu mau tidak mau sebagai generasi muda kami harus tampil,” kenangn pria 52 tahun ini.

Belajarnya pun sederhana. Ia mengamati seorang jagal asal Sidoarjo yang biasa menangani hewan kurban di masjidnya. Dari situ Heru mulai memahami cara merebahkan sapi, teknik penyembelihan, hingga cara mengasah pisau agar benar-benar tajam. “Bagaimana cara mengasahnya, kok pisaunya bisa tajam, kemudian bagaimana teknik sembelihnya itu kami perhatikan dan pelajari,” katanya.

Baru pada 2016 komunitas Juleha mulai lahir dan berkembang di berbagai daerah, termasuk Surabaya pada 2018. Lahirnya organisasi Juleha ini dilatarbelakangi keprihatinan terhadap banyaknya praktik penyembelihan yang tidak sesuai syariat maupun prinsip kesejahteraan hewan. Heru mengingat bagaimana video-video penyembelihan yang beredar di media sosial kala itu memperlihatkan proses penyembelihan berulang kali karena pisau tidak tajam. “Harusnya sekali dua kali gesekan sudah selesai, tapi ini berkali-kali. Setelah diamati, salah satu faktornya adalah ketajaman pisau,” jelas Heru yang juga pernah sebagai Dewan Pengawas Juleha Jatim. Dari situ para pegiat Juleha mulai menyusun metode pelatihan yang menggabungkan teknik penyembelihan dan standar ketajaman pisau agar proses penyembelihan tidak menyakiti hewan secara berlebihan.

Heru resmi bergabung dengan RPH Surabaya pada 2022 sebagai petugas Juleha atau yang di lingkungan RPH dikenal dengan istilah “mudin”. Saat ini, di RPH Pegirian terdapat dua petugas Juleha yang menangani proses penyembelihan sekitar 80 hingga 100 ekor sapi setiap malam. “Tugas Juleha di sini memang khusus menyembelih sapi. Kalau proses merebahkan dan penanganan hewan dilakukan pekerja jagal, dari pihak pemilik sapi” ujarnya.

Sebelum pemotongan dimulai, Heru terlebih dahulu mempersiapkan alat sembelih, terutama memastikan pisau benar-benar tajam sesuai standar. Menurutnya, ketajaman pisau bukan sekadar soal teknis, tetapi bagian dari ajaran Islam tentang ihsan atau berbuat baik terhadap makhluk hidup. " “Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat baik terhadap segala sesuatu. Jika kalian hendak membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian hendak menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah kalian menajamkan pisaunya dan senangkanlah hewan yang akan disembelih”, tegas Heru mengutip sebuah hadits riwayat Muslim.

Dalam praktiknya, seorang Juleha juga wajib memastikan empat saluran utama pada leher hewan terputus sempurna, yakni saluran napas, saluran makan, dan dua saluran pembuluh darah. Selain itu, setiap penyembelihan dilakukan dengan membaca tasmiyah pada masing-masing hewan.

“Setiap satu ekor, satu ucapan Bismillahi Allahu Akbar,” tegas Heru.

Bagi Heru, menjadi Juleha tidak cukup hanya berani menyembelih. Ada kompetensi yang harus dipenuhi, mulai dari pemahaman agama hingga teknik penyembelihan yang benar. “Kalau hanya asal bisa menyembelih tapi syariatnya tertinggal, itu yang bahaya,” ujarnya. Salah satu syariat yang tak kalah penting adalah kemampuan mengasah pisau secara manual. Standar minimal ketajaman pisau, kata Heru, harus mampu mengiris kertas HVS 70 gram dengan halus tanpa suara kasar. “Kalau masih kasar berarti pisaunya tajam, tapi masih punya gerigi yang lebar dan itu masih menyakiti hewan,” terangnya.

Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya Juleha, terutama yang bersertifikat, menurut Heru, harus semakin ditingkatkan. Kini semakin banyak masjid dan instansi mulai aktif mengadakan pelatihan penyembelihan halal. Ia berharap masyarakat semakin memahami bahwa proses penyembelihan bukan sekadar urusan memotong hewan, tetapi bagian penting dari syariat dan jaminan kehalalan pangan. “Kalau sembelihan dilakukan orang-orang yang kompeten dan memiliki sertifikat, Insya Allah keraguan tentang kehalalan daging itu bisa ditepis,” pungkasnya.(ant)



Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)